Belajar Menulis Storytelling dari Pesulap

menulis storytelling,cara menulis storytelling,tips menulis storytelling

Jika ingin terampil menulis storytelling, belajarlah dari pesulap. Bagaimana bisa?

Cara Menulis Strotytelling

Berlatih dan Memperhatikan detail

Saya punya teman pesulap kartu, namanya Hendra. Kami bertemu sewaktu ikut pelatihan fasilitator Gapura Digital.

Karena punya keterampilan sulap, Hendra selalu mengawali pelatihan digital marketing bagi UMKM dengan beberapa trik sulap. Tak heran apabila Hendra menjadi fasilitator, suasana pelatihannya selalu semarak dengan tepuk tangan dan teriakan kagum penontonnya.


Meski sudah terbiasa melakukan trik sulap, Hendra selalu berlatih dulu sebelum tampil. Ia melatih lagi setiap trik sulap. Tujuannya agar dia tidak melakukan kesalahan.

Perhatikan Setiap Detail Tulisan

Sulap membutuhkan perhatian besar terhadap detail dan banyak latihan. Ketika Hendra melakukan trik kartu, setiap gerakan dan kata berkontribusi pada ilusi. Kesalahan sekecil apa pun dalam posisi tangan dapat merusak trik. Setiap gerakan harus dilakukan untuk memori otot. Dengan begitu, pesulap dapat terlibat dengan penonton dan membuat mereka merasa dilihat dan disertakan.

Dengan memori otot yang kuat, aksi pesulap tidak akan terlihat canggung. Dan untuk menguatkan memori otot agar gerakan tangan tidak terpatah-patah, kata Hendra dia biasa berlatih 4 jam sehari, dan mengulanginya lagi satu jam sebelum pertunjukan.

Menulis storytelling juga begitu. Sebagai penulis, kita ingin pembaca tenggelam dalam setiap kata dan penuh perhatian sepanjang pengalaman membacanya. Kita tidak dapat mencapai tingkat penulisan seperti itu tanpa memperhatikan detail.


Setiap kata, tanda baca, dan spasi harus memiliki tujuan. Penulis harus mempertimbangkan setiap frasa, nada, ritme, dan struktur tulisan, kemudian mengedit atau menulis ulang untuk mendapatkan efek yang maksimal.

menulis storytelling,cara menulis storytelling,tips menulis storytelling
Menulis storytelling harus memperhatikan setiap detail tulisan (unsplash.com)

Gunakan Ilustrasi atau Narasi Cerita

“Dongeng lebih dari benar: Bukan karena mereka memberi tahu kita bahwa naga itu ada, tetapi karena mereka memberi tahu kita bahwa naga dapat dikalahkan.” – Neil Gaiman

Perhatikan bagaimana pesulap beraksi di depan penonton. Mereka selalu mengawalinya dengan cerita. Bahkan Limbad pun, yang selalu diam seribu bahasa sewaktu mempertontonkan trik sulapnya, juga bercerita lewat gerakan atau bahasa isyarat. Intinya, tak ada pesulap yang tidak bercerita.

Baca Juga: Cara Menjadi Penulis yang Baik
Gunakan Kata Ajaib untuk Bercerita

Saat pesulap bercerita sambil melakukan trik di atas panggung, ada satu kata yang sering mereka ucapkan. Kata itu adalah “misalnya”. Kata ini juga bisa kita gunakan untuk pada artikel kita agar bisa “bercerita”.

istilah teknis yang membingungkan bisa kita perjelas dengan ilustrasi yang tepat, dengan menggunakan kata ajaib,” misalnya”. Untunglah bahasa Indonesia punya banyak padanan kata yang maknanya serupa: ambil contoh; misalnya; seperti, sebagai contoh, iIni berarti, dan beberapa padanan kata yang lainnya. Jadi tak perlu khawatir mengulang kata-kata yang sama.

Pakai Narasi Kisah untuk Menjelaskan Istilah Teknis

Selain menggunakan kata-kata ajaib di atas, kita juga bisa menggunakan ilustrasi atau narasi kisah untuk menjelaskan istilah teknis. Misalnya kita bisa menjelaskan istilah ghosting dengan kisah singkat berikut ini:

Mendadak, lirik lagu Ellya Khadam langsung terngiang di kepalaku,

Kau pergi tanpa pesan

Ku nanti tiada datang

Di mana kau kini

Di mana kau kini

Aku tiada berkawan lagi                         

Pada dasarnya, ketika kita mulai bercerita, otak pembaca akan menaruh perhatian dan terlibat kembali dalam tulisan. Semakin rinci dan deskriptif bahasa yang kita gunakan, semakin baik.


Dengan memberi contoh atau ilustrasi berupa sebuah cerita, kita tidak hanya akan membuat tulisan jadi lebih menarik dan lebih mudah dipahami, tetapi juga membuat tulisan kita jadi lebih berkesan. Menurut artikel di Forbes, “Psikolog kognitif Jerome Bruner mengatakan, kita 22 kali lebih mungkin untuk mengingat fakta ketika itu telah dibungkus dalam sebuah cerita.”

Fokus Pada Pembaca

Setiap pesulap harus mempertimbangkan sudut pandang dengan detil. Saat melakukan trik sulap, Hendra tentu tidak ingin penonton tahu rahasia triknya.

Pesulap harus mempertimbangkan segalanya dari sudut pandang penonton. Apa yang mereka lihat, dan bagaimana detail yang mengungkap trik itu bisa disembunyikan dari pandangan.

Mirip dengan pesulap, penulis juga tampil untuk pembaca. Oleh karena itu, kita harus mencoba untuk melihat sesuatu dari perspektif mereka dan menyesuaikan tulisan kita untuk memaksimalkan pengalaman membaca mereka.

Ketahui Target Pembaca

Saat menulis storytelling, pertimbangkan siapa target pemirsa kita dan melalui lensa apa mereka memandang tulisan kita. Ketahui apa yang mereka harapkan, dan penuhi harapan mereka atau kejutkan mereka.

Sebagai penulis, kita ingin menghibur dan menyenangkan pembaca, apa pun genre tulisan kita. Dengan memilih target pemirsa dan menulis dengan mempertimbangkan apa yang mereka inginkan, kita dapat memikat sekaligus meningkatkan pengalaman membaca mereka. Setiap individu akan merasa seolah-olah kita menulis untuk mereka.

Artikel ini sudah ditayangkan di Kompasiana

Kamu mungkin juga suka...

Tinggalkan Komentar Ya

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

%d blogger menyukai ini: