Tanah Hitam, Papua

Berpetualang Ke Keerom, Papua


Sebagian besar daratan Papua dipenuhi dengan hutan-hutan yang lebat. Jika kita ingin bepergian dari satu daerah ke daerah lain, maka pemandangan yang didapat sepanjang jalan hanyalah hutan, hutan, dan hutan lagi. Begitu pula saat saya menyempatkan diri berpetualang ke Kabupaten Keerom, Papua, sendirian naik motor.

Awal petualangan saya dimulai dari distrik Sentani, tempat saya menginap. Sebenarnya, tujuan saya adalah ke daerah perbatasan Papua-Papua Nugini, di Skuow. Tapi, ditengah perjalanan saya malah nyasar sampai ke Kabupaten Keerom.

Dari Sentani, saya melintas ke kota Abepura yang berjarak 30 menit. Kota Abepura lumayan ramai, bahkan sudah mampu menyamai kota Jayapura sendiri sebagai ibukota provinsi. Dari Abepura, saya pun membelok ke arah tenggara, ke daerah bernama Tanah Hitam. Lama perjalanan hanya sekitar 15 menit.

Di sini, saya mendapat sebuah pemandangan yang indah. Pantai di Tanah Hitam memang tidak semenarik pantai-pantai daerah wisata terkenal lainnya. Tapi, pemandangan di seberang pantai itulah yang mampu menggugah insting wisata saya. Diseberang pantai, tampak bukit-bukit hijau, serta awan-awan putih dengan latar belakang langit yang membiru. Seorang nelayan yang sedang mengayuh perahunya, melintas didepan saya. Dan, jadilah foto panorama indah seperti ini:

Tanah Hitam, Papua

pemandangan dari Tanah Hitam, Papua

Saya pikir, inilah foto amatir terbaik dari saya, hehehe.


Ok, setelah mampir sejenak di Tanah Hitam tersebut, perjalanan pun saya lanjutkan kembali. Sepanjang jalan, yang nampak hanya hutan belantara, dengan sesekali ditimpali beberapa rumah penduduk lokal. Untung saja jalan disana sudah bagus, dan tidak ada jalan-jalan yang rusak atau bergelombang. Sehingga meski sendiri dan lama, perjalanan saya seperti tidak terasa capeknya.

Di sepanjang jalan, saya jarang bertemu kendaraan yang melintas. Hanya nampak satu kali bus umum, yang saya tidak tahu ujung tujuannya. Yang sering melintas lewat hanya beberapa orang yang naik sepeda motor seperti saya. Hampir satu jam perjalanan saya, belum nampak ada keramaian kampung atau kota kecil. Dan rasa khawatir pun mulai melanda. Bukan apa-apa, saya hanya takut ban sepeda motor saya kempes atau bocor, karena tak ada tanda-tanda kehidupan tukang tambal ban disini.

setelah menempuh perjalanan satu jam setengah, akhirnya saya menemukan sebentuk keramaian. Tepatnya di sebuah desa transmigran, bernama desa Koya. Sebagian besar penduduknya adalah transmigran dari Jawa. Di tepi jalan besar menuju persimpangan jalan masuk desa, terdapat sebuah pasar. Dan disitulah saya menemukan seorang pemuda Papua, yang sedang menjual sesuatu yang menarik perhatian saya.

 

kuskus

seorang pemuda Papua disamping hewan buruannya yang dijual

Pemuda ini tidak sedang berjualan boneka kuskus. Ini adalah bangkai kuskus hasil buruannya di pedalaman hutan Papua. Selain kuskus (orang sana menyebutnya tikus pohon), di pinggir jalan menuju Kabupaten Keerom, Papua ini digantung pula bangkai hewan-hewan lainnya, seperti kelelawar raksasa, ayam hutan, burung maleo, dan babi hutan.


Jangan salah sangka, dan jangan menyebut pemuda ini kejam, membunuh hewan-hewan liar, terlebih ada yang termasuk kategori dilindungi. Ada perbedaan antara membunuh hewan karena hobi semata, dan membunuh hewan (berburu) untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ya, hidup di pedalaman Papua memang sulit. Jika anda terbiasa hidup dengan berbagai fasilitas serta sedikit kemewahan, jangan pernah membayangkan anda hidup di pedalaman. Tak ada SPBU/penjual BBM (yang terdekat adalah di Abepura, 200 km dari batas kabupaten Keerom). Tak ada toko serba ada/supermarket (pasar yang terdekat adalah di daerah transmigran Koya, 60 km dari kabupaten Keerom).

Dan, pemuda ini pun hanya bisa berburu untuk memenuhi kehidupannya. Hewan-hewan hasil buruannya ini dijual di tepi jalan, dimana masih terdapat lalu lalang manusia yang sedang ke arah kabupaten Keerom.
Saat saya dekati untuk mengambil gambarnya, dia menawarkan saya untuk membeli bangkai kuskus itu 300 ribu, sementara kelelawar dia jual 100 ribu, dan ayam hutan/ayam maleo dia jual 50 ribu per ekor. Sambil tersenyum, pemuda ini mengatakan bahwa makan daging kuskus bisa menambah gairah seksual dan bikin tahan lama, hehehe.

Saya hanya tersenyum, dan meminta maaf tidak bisa membeli barang dagangannya, namun, saya sempat selipkan beberapa lembar uang kepadanya. Bukan karena kasihan, lebih tepatnya karena kagum akan perjuangan hidup, dan sudah memberi saya pelajaran untuk bisa lebih bersyukur akan kehidupan yang saya punya.

Setelah dari Koya, saya pun melanjutkan perjalanan kembali. Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, saya pun sampai di Kabupaten Keerom. Memang, belum masuk ke pusat Kabupatennya, hanya sampai di sebuah pos penjagaan TNI, dekat dengan tempat wisata rohani umat nasrani (yang saya lupa apa namanya).

Sampai disitulah batas keberanian petualangan saya. Karena sebelum melanjutkan perjalanan terus menembus kawasan hutan, saya sempat dinasehati oleh anggota TNI, agar berhati-hati, apalagi saya sendirian. Karena, saat itu daerah Keerom masih rawan oleh adanya pergerakan OPM. Jadi, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam dari distrik Sentani menuju Keerom, saya pun kembali…..

 


Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.