Sabtu, Februari 23admin@warungwisata.com

Wisata Budaya

Mengenal Lebih Dekat Museum Lukisan Sidik Jari

Mengenal Lebih Dekat Museum Lukisan Sidik Jari

Wisata Budaya
  Sekilas mungkin terdengar aneh, ada lukisan yang terbuat dari sidik jari manusia. Tapi, hal yang terdengar aneh bagi orang awam ini tidak berlaku bagi seniman Bali ini. Adalah I Gusti Ngurah Gede Pemecutan yang menjadi pelopornya. Ia menjadi seniman lukis sidik jari yang pertama kali memperkenalkannya di Pulau Bali dan mengumpulkannya jadi satu dalam Museum Lukisan Sidik Jari. Semua berawal atas ketidaksengajaan saat dirinya sedang mengerjakan lukisan “Tari Baris”. Merasa hasil karyanya gagal, ia mulai memperbaikinya dengan polesan warna-warni yang ada diujung jarinya. Setelah diamati, ternyata lukisan itu membentuk nuansa yang berbeda dari lukisan pada umumnya. Disitulah muncul ungkapan lukisan sidik jari. Dari karyanya inilah, kemudian Ngurah memiliki ide untuk mendirika
Menelusuri Sejarah Bali Di Museum Bajra Shandi

Menelusuri Sejarah Bali Di Museum Bajra Shandi

Wisata Budaya, Wisata Sejarah
  Jika anda ingin mengetahui dan menelusuri sejarah kehidupan masyarakat Bali, mulai dari Masa Prasejarah, Masa Bali Kuno, Masa Pergolakan Fisik hingga masa-masa mengisi dan mempertahankan perjuangan kemerdekaan di Pulau Dewata, sebaiknya berwisatalah ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang terletak di Jl. Raya Puputan Niti Mandala, Denpasar – Bali. Monumen ini juga dikenal dengan nama Museum Bajra Shandi. Keberadaan Monumen Perjuangan Rakyat Bali saat ini memang tidak lepas dari pengagasnya yang bernama Alm. Prof Dr. Ida Bagus Mantra yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bali. Untuk merealisasikan idenya, pada tahun 1981-1987 dibuatlah desain monumen yang dimenangkan oleh Ida Bagus Gede Yadnya. Kemudian, tahun 1988-2001, proses pembangunan fisik dimulai dengan Ida Bagus Tugur
Pasar Majelangu Denpasar, Satu-satunya Pasar Yang Buka Di Hari Raya Nyepi

Pasar Majelangu Denpasar, Satu-satunya Pasar Yang Buka Di Hari Raya Nyepi

Wisata Budaya, Wisata Kuliner
Hari Raya Nyepi, adalah salah satu hari raya umat hindu di Bali. Di Hari Raya ini, semua aktifitas keseharian penduduk Bali otomatis berhenti sehari semalam. Mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 06.00 keesokan harinya. Semua kegiatan bisnis, perniagaan maupun aktifitas sehari-hari di luar rumah juga berhenti karena di hari raya Nyepi, penduduk Bali tidak diperbolehkan keluar rumah dan membuat keramaian. Anehnya, di Bali, tepatnya Denpasar, ada sebuah pasar yang diijinkan atau boleh dikata mempunyai tradisi unik buka hanya di hari raya Nyepi saja. Pasar itu adalah pasar Majelangu, yang terletak di Jl. Dr. Soetomo, Banjar Gerenceng. Pasar yang terletak di dalam Pura Majelangu Banjar Gerenceng ini merupakan satu-satunya pasar yang bisa buka saat penduduk lainnya berhari Raya Nyepi. Bukan ta...
Malioboro Dan Yogyakarta Yang Tak Lagi Istimewa

Malioboro Dan Yogyakarta Yang Tak Lagi Istimewa

Wisata Alam, Wisata Budaya
Malioboro dan Yogyakarta adalah dua sisi mata uang, tak dapat dipisahkan. Jika berbicara Yogyakarta, pasti semua orang juga akan berbicara tentang Malioboro. Jika Yogyakarta adalah ikon wisata budaya Indonesia, maka Malioboro adalah ikon dan pusat wisata dari Yogyakarta itu sendiri. Keberadaan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa memang sangat mendukung potensi wisata budaya maupun wisata alam di daerah tersebut. Hingga kemudian terciptalah tagline Yogya Istimewa, atau Yogya Never Ending Asia. Namun harus diakui, Yogyakarta dan Malioboro memang istimewa. Bagi setiap wisatawan yang pernah menginjakkan kaki di Malioboro dan Yogyakarta, ada kesan tersendiri yang tak pernah dilupakan. Never Ending stories.... Kini, kesan istimewa itu perlahan mulai memudar seiring berbagai pembangunan fasi...

Menikmati Denting Merdu Dawai Sasando

Wisata Budaya
Pagi itu, jam sarapan di sebuah hotel tempat saya menginap dihiasi dengan denting merdu dari dawai sebuah Sasando yang dimainkan oleh pemusik lokal. Namanya Zakarias Ndaong, asli dari Rote, Nusa Tenggara Timur. Kepiawaiannya memainkan Sasando membuat Zakarias sering diundang untuk mengisi acara-acara resmi, atau dikontrak hotel untuk menemani waktu sarapan para tamu hotel. Seperti saat itu, Zakarias diundang hotel Swiss Bel Inn Kristal Kupang untuk bermain Sasando pada jam makan pagi, selama empat hari berturut-turut. Hal itu karena bertepatan dengan event Melanesian Culture Festival, yakni festival budaya bangsa-bangsa Melanesia yang digelar oleh Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan RI. Dan, baru kali ini saya melihat sendiri, sebuah alat musik Sasando bisa dimainkan dan membentuk nada-n...