ketan legenda

Demi Sebuah Ketan Legenda, Rela Antri Atau Gak Jadi Beli?


Dalam bisnis kuliner, salah satu indikator bisnis tersebut laris dan sukses adalah banyaknya customer/pelanggan yang antri. Entah itu karena memang masakannya enak dan melegenda sehingga pelanggan rela antri untuk membeli, atau karena pada saat itu sistem pelayanannya sedang terganggu, sehingga menyebabkan calon pelanggan yang akan membeli jadi mengantri. Ini adalah cerita pengalaman saya saat membeli makanan bernama Ketan Legenda.

Terus terang, saya paling tidak suka mengantri hanya karena sebuah makanan. Bagi saya pribadi, lebih baik saya tidak jadi membeli daripada bersusah payah antri, yang tidak tahu berapa lama waktunya.

Seperti yang belum lama ini saya alami. Saat sedang jalan-jalan ke Kota Wisata Batu (KWB), istri saya mendadak ingin membeli ketan, jajanan tradisional itu. Kalo ketan biasa sih bisa diperoleh dimana saja, bahkan istri saya juga bisa membuat sendiri. Tapi, berhubung ini lagi di Batu, ada satu warung ketan yang legendaris banget, sampe antriannya mengular.

ketan legenda

Pos Ketan Legenda 1967 di Kota Wisata Batu

Letaknya persis didepan Masjid Raya Batu, di alun-alun kota Batu. Namanya Pos Ketan Legenda-1967. Tempatnya sederhana, hanya sebuah warung kecil, dengan beberapa meja dan kursi di depan warung. Tapi, jangan remehkan kesederhanaan ini. Belum buka aja, sudah banyak yang mengantri didepan warung. Hanya sekedar untuk membeli ketan yang dimodif dengan beberapa rasa. Yang terkenal adalah ketan durian dan ketan nangka.

Jam buka Pos Ketan Legenda ini dimulai pukul 16.30. Tapi, hampir satu jam sebelum Pos Ketan resmi dibuka, antrian dari para calon pembeli sudah mengular beberapa meter jauhnya. Saat itu, istri saya yang kebetulan lagi ngebet banget pingin mencicipi ketan legenda ini, rela antri bersama banyak calon pembeli lainnya. Saya sendiri agak malas untuk membeli. Bukan karena tidak kepingin merasakan makanan tersebut, tapi prinsip saya yang malas antri hanya demi sebuah makanan.


Oke lah, saya pun mengijinkan istri untuk mengantri di Pos Ketan tersebut, sementara kedua anak saya sudah merengek gak kerasan pingin segera pulang. Maklum, sore sudah menjelang dan waktu Maghrib sudah dekat. Dengan susah payah, saya bujuk kedua anak saya karena ibunya masih berjuang dalam antrian pembeli.

Pukul 16.45, warung Pos Ketan Legenda pun segera dibuka (telat 15 menit dari jadwal yang sudah terpampang). Beberapa calon pembeli nampak menghela nafas lega. Antrian pun mulai bergerak perlahan, tapi, tetap saja istri saya masih dalam posisi antrian di belakang. Setengah jam usai dibuka, saya lihat posisi antrian istri saya hanya beranjak separuh dari posisi semula. Setelah satu jam mengantri, akhirnya istri saya mendapat kesempatan untuk membeli ketan yang diinginkannya. Saya semula berpikir, waktu pelayanannya akan lama juga mengingat banyaknya yang antri. Tapi, perkiraan saya meleset. Ternyata, pesanan istri saya cepat datangnya, tak sampai sepuluh menit. Mungkin karena ketan yang dia pesan tidak dimakan ditempat, tapi dibungkus untuk dibawa pulang.

Usai membeli, istri saya pun bernafas lega. Tuntas sudah perjuangan mengantri demi sebuah ketan legenda. Dengan nada menggoda, saya bertanya pada istri, apakah mau lagi beli ketan legenda di tempat tersebut, dan rela antri berjam-jam kembali? Istri saya menjawab, “Ogah, cukup pertama kali saja, setelah tahu rasa makanannya, jadi malas kalo harus antri lagi untuk kedua kalinya”.

 


Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.