Jumat, Maret 22admin@warungwisata.com

Kalau Minum Kopi, Jangan Diaduk!

Pada umumnya kegiatan malam hari seorang manusia sebelum tidur adalah mencari 3 hal berikut ini: toilet, handphone, dan kopi. Kebetulan kedua orang tersebut sedang mencari kopi. Namun karena terlalu malas bergerak dari sofa di ruang tamu, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk dan menanti keajaiban. Woilaa, tak lama kemudian sang tukang kopi keliling lewat dengan manisnya.

Kedua pemuda tersebut akhirnya membeli masing-masing secangkir kopi alias kopi hitam dan segera duduk di teras untuk minum. Semuanya senang hingga akhirnya tragedi itu pun datang.

M: “Kopi lo gak diaduk, Bray?”
S: “Hah? Buat apaan diaduk? Emangnya semen…”
M: “Loh, haruslah. Biar semuanya kecampur rata!”
S: “Ah, jadinya gak enak dilihat tauk. Gak karu-karuan bentuknya!”

Dari percakapan yang hampir berujung ke acara gelut mulut di atas, kita bisa memahami bahwa di dunia ini perbedaan konsep itu nyata, bahkan di perkara-perkara kecil. Yin dan Yang. Hitam dan Putih. Diaduk dan Tidak Diaduk.

Well, gue pribadi termasuk dalam faksi kopi tidak diaduk. YA, KOPI HITAM TIDAK PERLU DIADUK . Perlu gue tekankan di sini bahwa ini adalah keyakinan yang gue pegang sejak bertemu Raja dari tumbuktu yang minum kopi ga diaduk. Tanpa paksaan dan sadar secara utuh.

Kenapa KOPI TIDAK DIADUK?

Simpel. Kalo lo perhatiin proses ketika kopi hitam diracik, lo akan sadar semua itu sudah ada tatanannya. Ibarat kata anak sosiologi, sudah ada strata sosialnya.

Kopinya dulu;
Ditambah gula (boleh kaga)
Dikecrot air panas.
Kalo ente apes airnya belum panas lebih sedep lagi

Lo perhatiin stratanya, itu udah sempurna banget. Ketika lo meneyeruput itu kopi, yang lo dapet adalah rasa dari susunan yang hakiki. Buat apaan lagi diaduk? Kopi bukan ketoprak, apalagi bubur ayam. Diaduk hanya akan menghilangkan keindahan si kopi. Lo ngerusak seni!!!

Kalo kita tengok dengan kacamata sosial, kopi yang ada di bagian bawah dan berjumlah banyak merupakan gambaran kaum proletar; kelihatannya sepele tapi mereka adalah dasar kekuatan yang sesungguhnya. Selanjutnya ada gula yang termasuk dalam middle class: yang akan memberikan pengaruh cita rasa ke atas dan ke bawah. Akan tetapi walaupun penting, perlu dicatat bahwa keberadaan gula bukanlah yang utama, bahkan bisa ditiadakan sama sekali kalau alam (baca: sang penikmat kopi) menghendakinya. Namun ingat, tidak akan ada kenikmatan yang tercipta jika gula ditaruh terlalu banyak. Jadi, secukupnya saja. Terakhir pada bagian atas ada curahan air panas, mereka adalah upper class, kaum fancy dalam hidup ini.

Paham dengan penjelasan di atas?

Jika iya, kita lanjutkan dengan hubungan penjabaran di atas dengan alasan kenapa kopi tidak perlu diaduk. Susunan strata yang sudah sempurna itu jika kita aduk akan menimbulkan kegamangan bahkan chaos. Bayangkan kopi yang pahit ketika dimakan akan hilang esensinya ketika bercampur dengan air dan gula yang diaduk.Tidak berdaya. Tampilan kopi yang awalnya indah dan instagram-able mendadak tampak seperti seonggok gumpalan yang porak poranda. Sungguh tak sedap dipandang. Semua sudah ada takarannya, semua sudah ada posisinya, untuk apa lagi diaduk-aduk?

Ingat, KOPI TIDAK DIADUK.

Buat semua orang yang meyakini kopi itu diaduk, bersyukurlah bahwasanya Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segeralah bikin kopi

One Comment

Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: