Sabtu, Februari 23admin@warungwisata.com

Kampung Kayutangan, Wisata Sejarah di Kota Malang

Kawasan Kampung Kayutangan adalah salah satu kawasan yang bersejarah di kota Malang. Pada era kolonial Belanda, kawasan ini menjadi pusat bisnis, yang hingga sekarang masih bertahan. Banyak bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang tetap dipertahankan bentuk aslinya, termasuk beberapa rumah di perkampungan Kayutangan. Meski tak sedikit pula yang sudah berubah, baik fungsi maupun arsitektur bangunannya.

Tentang asal usul nama Kayutangan, ada dua versi yang berkembang di masyarakat kampung Kayutangan. Pertama, sebelum Malang menjadi kotapraja, di kawasan terdapat papan penunjuk arah berukuran besar yang berbentuk tangan yang dibuat oleh Belanda. Versi kedua adalah disaat mulai berkembangnya kawasan Alun-alun, di ujung jalan arah alun-alun terdapat pohon yang menyerupai tangan. Karena itu kawasan tersebut lantas disebut Kayutangan. Yang mana versi yang benar dan bisa menjadi dasar penyebutan Kampung Kayutangan? Entahlah, yang jelas nama Kajoetangan (Kayutangan) banyak disebut dalam laporan-laporan Belanda sejak tahun 1890, sebagaimana beberapa nama kampung asli Malang lainnya seperti Jodipan, Tongan, Taloon (Talun) dan Sukun.

kampung kayutangan,kawasan kayutangan,koridor kayutangan,wisata heritage,kampung heritage kayutangan,wisata sejarah,wisata malang,wisata kota malang
Landmark kawasan Kayutangan

Kawasan Kayutangan terletak disepanjang jalan Basuki Rahmad. Memanjang mulai dari Pertokoan Kayutangan di seberang Gereja Hati Kudus Yesus, atau seberang Toko Oen, hingga ke pertigaan bundar depan kantor PLN. Disepanjang jalan ini, banyak bangunan bergaya kolonial yang masih bertahan bentuk aslinya.

Jika ingin berwisata menelusuri Kampung Kayutangan, lebih baik anda berjalan kaki saja. Kendaraan bisa diparkir di Pertokoan Kayutangan atau di tempat parkir Plasa Sarinah. Dari sini, anda bisa berjalan kaki ke arah utara.

Plasa Sarinah sendiri dulunya adalah Gedung Societeit Concordia. Boleh dibilang gedung ini adalah pusat dari sejarah kota Malang. Hal ini karena gedung Sarinah dulunya menjadi tempat tinggal pertama bupati, yakni Raden Panji Wielasmorokoesoemo yang setelah diangkat menjadi Bupati Malang dan Ngantang kemudian berganti nama menjadi  Raden Toemenggoeng Notodiningrat.

Ketika para imigran Belanda mulai masuk ke Malang, tempat ini diambil alih dan kemudian dijadikan Gedung Societiet Concordia. Setelah Malang menjadi kotapraja, gedung tersebut dirobohkan dan digantikan dengan model bangunan kolonial modern untuk mengakomodasi kebutuhan tempat rekreasi warga Belanda. Di sana disediakan seperti meja tempat main kartu, meja biliar, perpustakaan, gedung pertemuan dan ice skating di atap yang datar, dan pada saat tertentu dilapisi es. Pada tahun 1947, gedung yang pernah dipakai rapat KNIP itu dibumihanguskan dalam rangka strategi perang gerilya dan pada tahun 1948 gedung tersebut diratakan dengan tanah. Di lahan bekasnya kemudian dibangun gedung baru untuk pusat pertokoan pertama di Malang yang sekarang bernama Sarinah. Nama Sarinah diciptakan oleh Presiden Soekarno yang berarti abdi masyarakat.

Di seberang Plasa Sarinah ada sebuah hotel yang juga mempunyai nilai sejarah. Hotel Richie namanya. Bersama Hotel Pelangi, dan hotel Splendid Inn, hotel Richie menjadi tempat menginap favorit para warga Belanda dari luar kota Malang pada masa kolonial.

Toko Oen Kayutangan

Setelah berjalan ke utara sedikit, anda akan menjumpai Toko Oen. Toko ini mulai dibuka sejak tahun 1930, dengan nama Toko Oen Ice Cream Palace Patissier. Toko Oen menjadi satu-satunya restoran dari keluarga China, ‘Oen’ yang menyediakan menu khas Belanda saat itu. Karena lokasinya berada tepat di depan Gedung Concordia (sekarang Sarinah) tempat berkumpulnya semua warga Belanda di Malang, restoran ini sampai sekarang dikenang sebagai tempat nostalgia warga Belanda yang wajib dikunjungi.

Pada saat Kongres KNIP pada 25 Februari 1947, restoran ini menjadi tempat mangkal para peserta Kongres se-Indonesia untuk beristirahat makan siang. Ketika Belanda masuk kembali pada Juli 1947 dalam aksi Agresi Militer I, tempat ini adalah salah satu dari sedikit bangunan yang selamat dari aksi bumihangus yang dilakukan para pejuang.

Setelah itu anda akan menemui Plasa Telkom. Sayang sekali, bangunan yang dibangun pada tanggal 8 Juli 1909 dan dulunya berfungsi sebagai kantor pos, telegram dan telepon ini  sudah mengalami banyak perubahan bentuk. Hal ini karena saat terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda pada tahun 1947, kantor ini tak luput dari amuk pejuang Malang yang saat itu menerapkan strategi Malang Lautan Api hingga tinggal tembok depannya saja.

Di sepanjang jalan Basuki Rahmat ini banyak terdapat pertokoan dan tempat usaha. Sekitar 1960-1970-an pertokoan itu membuat pusat keramaian di Kota Malang dengan ragam usaha. Antara lain, perdagangan umum, perkantoran, pakaian jadi, toko kelontong, dan lain-lain. Hampir semua bangunan tokonya mempunyai bentuk yang sama, yakni bergaya atap datar dan berbentuk kubus dengan pembatas teralis besi di depannya.

Terus ke arah utara, perjalanan anda akan menemui perempatan jalan yang menghubungkan jalan Semeru, jalan Kahuripan dan jalan Basuki Rahmat. Oleh penduduk asli Malang, perempatan jalan ini dikenal dengan nama perempatan Rajabaly. Di sekitar perempatan ini dulunya adalah sebuah pertokoan, yang dibangun pada tahun 1936 oleh arsitek Karel Bos. Yang menarik adalah keunikan bentuk arsitektur pertokoannya.

Sebelum masuk ke jalan Semeru (dari jalan Kahuripan), di sebelah kanan dan kiri terdapat bangunan kembar. Sekarang berubah menjadi kantor Commonwealth Bank dan tempat penukaran mata uang asing Rajabaly. Sayangnya bangunan yang jadi kantor penukaran mata uang asing ini sekarang sedikit terlantar. Bentuk kembar bangunan sebelah kanan dan kiri itu bukan hanya menggambarkan pintu gerbang menuju Jalan Semeru. Tapi menurut beberapa tokoh masyarakat di sana, bangunan kembar tersebut terinspirasi dari sang arsitek yang baru dikaruniai putra kembar.

Di seberang bangunan kembar sisi utara, tepatnya di depan hotel Whiz Prime yang sekarang, dulunya terdapat sebuah hotel, yakni Hotel Mabes dan Malangsche Apotheek. Keduanya kemudian digabung jadi satu dan berubah nama menjadi YMCA Hotel. Ini adalah salah satu jaringan hotel internasional yang terkenal saat itu. Sekarang bangunan itu berubah fungsi menjadi gedung Bank BCA.

Perjalanan menyusuri kawasan Kayutangan di sepanjang jalan Basuki Rahmat berakhir usai melewati kantor PLN. Kantor Electriciteit Mij Aniem N. V. Malang atau Perusahaan Listrik Negara cabang Malang dibangun sekitar 1930-an. Bangunan yang bagian belakangnya langsung menghadap ke Sungai Brantas ini mempunyai beberapa ruang bawah tanah yang tertutup.

Konon, ada sebuah terowongan besar yang menghubungkan kantor PLN dengan kampung yang ada diseberang Sungai Brantas. Kampung ini sekarang dikenal sebagai Kampung Putih, yang terletak disebelah Rumah Sakit Saiful Anwar.

Beberapa bangunan bersejarah lainnya yang terdapat di kawasan Kayutangan antara lain Gereja Hati Kudus Yesus. Gereja ini didirikan pada tahun 1905 oleh arsitek MJ. Hulswit, murid sekolah Quelinus yang dikepalai oleh PJH Cuypers. MJ Hulswit adalah arsitek Belanda ahli restorasi gereja-gereja Githic saat Malang masih menjadi daerah bagian dari karesidenan Pasuruan.

kampung kayutangan,kawasan kayutangan,koridor kayutangan,wisata heritage,kampung heritage kayutangan,wisata sejarah,wisata malang,wisata kota malang
Gereja hati Kudus atau Gereja Kayutangan

Di dalam Gereja terdapat prasasti yang ditulis dalam bahasa Belanda yang artinya “Gereja ini dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus, didirikan berkat kemurahan hati yang mulia Monseigneur E.S Luypen, dirancang oleh M.J Hulswit”.

Kampung Kayutangan

Meski didominasi oleh toko atau kantor dan tempat usaha lainnya, bangunan heritage bernilai sejarah juga ada di dalam perkampungan yang dihuni warga asli Malang. Para penduduk bertempat tinggal di Kampung Kayutangan dalam gang-gang kecil yang terletak setelah Plasa Telkom, yakni di jalan Basuki Rahmat gang 1-8.

Selain melalui jalan Basuki Rahmat, pintu masuk menuju Kampung Kayutangan juga berada di kawasan Talun. Tepatnya di pertigaan jalan Kawi dan Arif Rahman Hakim, atau jalan Arif Rahman Hakim gang 1, sebelah Depot Es Talun. Atau bisa juga melalui jalan Dorowati. Di perkampungan ini, banyak rumah penduduk kampung yang masih mempertahankan bentuk asli bangunan rumah yang dibangun sejak jaman Belanda.

Salah satunya rumah di jalan Basuki Rahmat gang 6 nomor 988. Di samping pintu rumah, terpasang plakat bertuliskan “Kampoeng Kajoetangan Rumah 1870 Jl Basuki Rahmad Gang 6 No 98 Malang. Dibangun tahun 1870 oleh generasi pertama kelurga Bapak Nur Wasil. Bangunan ini berukuran  8x11m, terdiri dari ruang bawah dan loteng bertapa perisai”. Rumah ini menjadi yang tertua di RW IX Kampung Kayutangan. Plakat serupa juga terdapat di enam rumah lainnya, seperti rumah Jengki, rumah Namsin dan rumah Priyambodo. Semua rumah bernilai heritage ini terletak di RW IX.

kampung kayutangan,kawasan kayutangan,koridor kayutangan,wisata heritage,kampung heritage kayutangan,wisata sejarah,wisata malang,wisata kota malang
rumah tertua di Kampung Kayutangan

Satu plakat lagi ditempel di pintu masuk pemakaman Mbah Honggo. Kompleks pemakaman Mbah Honggo terletak di RT 01 RW 09 Kelurahan Kauman Kecamatan Klojen. Mbah Honggo sendiri merupakan tokoh yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai guru spiritual Bupati Malang yang pertama yaitu, R. A. A. Notodiningrat. Diyakini pula keberadaan Mbah Honggo berkaitan erat dengan Ki Ageng Gribig dan Imam Soedjono di Gunung Kawi.

kampung kayutangan,kawasan kayutangan,koridor kayutangan,wisata heritage,kampung heritage kayutangan,wisata sejarah,wisata malang,wisata kota malang
Komplek makam Mbah Honggo

Di tengah-tengah kampung yang padat rumah dan penghuninya, terdapat saluran irigasi yang sudah dibangun sejak jaman kolonial, serta Kali Kerangkeng, sungai kecil yang membelah Kampung Kayutangan. Pintu saluran irigasi terletak di depan pintu masuk Jl. Basuki Rahmat gang 6.

Sebagai salah satu kawasan tua yang padat penduduk, Kampung Kayutangan juga dilengkapi dengan pasar sebagai sarana kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Pasar di tengah Kampung Kayutangan ini dikenal dengan nama Pasar Talun, atau Pasar Krempyeng. Dinamakan Pasar Krempyeng karena aktifitas jual beli di pasar ini berlangsung setiap hari dan tidak berdasarkan hari-hari tertentu menurut penanggalan Jawa, atau hari pasaran.

pasar talun,pasar krempyeng,kampung kayutangan,kawasan kayutangan,koridor kayutangan,wisata heritage,kampung heritage kayutangan,wisata sejarah,wisata malang,wisata kota malang
Pasar Talun atau Pasar Krempyeng

Pasar Krempyeng atau Pasar Talun ini diperkirakan dibangun bersamaan dengan pembangunan beberapa pasar pembantu Kotapraja Malang yang dimulai tahun 1919, melingkupi pembangunan Pasar Bunulrejo, Pasar Klojen, Pasar Kebalen, Pasar Oro-Oro Dowo, Pasar Embong Brantas, dan Pasar Lowokwaru. Namun, menurut versi lain keberadaan Pasar Krempyeng sudah ada sejak jaman Mbah Honggo.

Sebagai kawasan dengan banyak bangunan bersejarah, perlu kiranya pemerintah Kota Malang menetapkan kampung Kayutangan sebagai salah satu cagar budaya (heritage). Dengan demikian keaslian dan nilai sejarah dari bangunan-bangunan yang ada disitu masih bisa dipertahankan. Saat ini sudah mulai banyak bangunan bersejarah yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi hotel atau kantor. Yang mana sayang sekali arsitektur bangunannya tidak mencerminkan adanya nilai sejarah yang bisa dikenang.

 

Tips menuju lokasi

  1. Dari stasiun atau arah utara bisa langsung menuju ke Alun-alun. Kendaraan bisa diparkir di Plasa Sarinah atau parkiran alun-alun.
  2. Dari stasiun Kota Baru bisa naik angkot MM, turun di Plasa Sarinah/Pertokoan Kayutangan.
  3. Dari terminal Arjosari, bisa naik angkot ADL, AL turun di jalan Semeru. Begitu juga bila dari arah terminal Landungsari.
  4. Jika datang dari arah barat langsung menuju ke arah Stasiun/timur, kendaraan bisa diparkir di sepanjang jalan Semeru.
  5. Jika datang dari selatan, kendaraan bisa diparkir di parkiran Alun-alun atau plasa Sarinah.
  6. Dari terminal Hamid Rusdi/Gadang bisa naik angkot GA, turun di depan Gramedia atau toko Oen.

Lokasi: RW 09 Kelurahan Kauman Kecamatan Klojen, atau sepanjang koridor jalan Basuki Rahmat, Kota Malang.

Waktu terbaik kunjungan: Sabtu dan Minggu. Untuk hari-hari kerja (Senin-Jumat) ramai dengan lalu lintas, diharapkan bisa berhati-hati saat menyusuri jalan Basuki Rahmat.

Fasilitas: Hotel bintang 3-4 (, Hotel Richie, Whiz Prime hotel dan Hotel Grand Citihub), warung makan dan warung kopi, McDonalds, Kentucky Fried Chicken.

Gedung bersejarah: Pemakaman Mbah Honggo, Gereja Hati Kudus Yesus, Toko Oen, Plasa Sarinah, Plasa Telkom, Gedung kembar (Commonwealth Bank dan gedung biru tempat penukaran mata uang asing), Gedung PLN.

Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: