Senin, Mei 20admin@warungwisata.com

Ke Perbatasan PNG, Menelusuri Jalur Tikus Anggota OPM

Niat untuk beravonturir ke perbatasan PNG (Papua New Guenea/Papua Nugini) di Jayapura akhirnya kesampaian juga pada kesempatan kedua saya berada di bumi Papua. Setelah tahun lalu malah nyasar ke daerah Keerom. Kali ini, saya tidak lagi avonturir sendiri. Bukan mengapa, cuma karena mendekati HUT OPM pada tanggal 1 Desember nanti, situasi di Papua lumayan tidak kondusif, terutama di daerah-daerah pedalaman dan dekat perbatasan PNG.

Kali ini, saya beruntung ditemani dan diantar oleh GM Hotel Yasmin tempat saya menginap. Perjalanan ke perbatasan PNG, atau orang lokal menyebutnya Skuow memakan waktu 2 jam perjalanan dari kota Jayapura. Dari pusat kota, mengarah ke daerah Tanah Hitam, kemudian terus ke arah pemukiman transmigrasi di distrik Koya. Dari sini, berbelok ke kiri (ada penunjuk arah), ke distrik Muara Tami, sedangkan kalau lurus ke arah Kabupaten Keerom.

Mulai dari distrik Koya hingga Muara Tami, sepanjang perjalanan benar-benar sepi. Hampir kami tidak menjumpai kendaraan yang melintas. Pemandangan yang terlihat hanya sekedar hutan, hutan dan diselingin beberapa ladang kebun milik transmigran dan penduduk lokal.

Di ujung distrik Muara Tami, kami akhirnya menjumpai beberapa pos penjagaan TNI, hingga kemudian berujung pada markas Koramil. Setelah 10 menit dari markas Koramil, barulah kami sampai pada daerah perbatasan RI-PNG.

Sebelum melangkah jauh ke pintu perbatasan, tentu saja kami diminta untuk berhenti. Sekedar ditanya apa keperluannya ke perbatasan. Teman saya, GM Hotel Yasmin, Pak Akhmad kemudian menjelaskan bahwa dia hanya ingin mengantar tamunya dari Bali untuk melihat-lihat perbatasan. Kami pun akhirnya diijinkan masuk, setelah sebelumnya meninggalkan kartu identitas di pos penjaga.

Perbatasan RI-PNG di Jayapura terlihat sudah lebih modern, daripada apa yang saya bayangkan. Dari sisi RI, terlihat gerbang besar bertuliskan “Selamat Jalan-Goodbye”. Agak masuk ke dalam, disisi kiri terdapat monumen perbatasan yang diresmikan oleh presiden RI ke-6 SBY dan Perdana Menteri PNG. Di sebelahnya terdapat sebuah gazebo kecil tempat berteduh beberapa anggota TNI yang sedang kebagian tugas jaga perbatasan. Ada pula beberapa penduduk lokal dan wisatawan luar yang juga ingin sekedar menengok pintu batas RI dan PNG ini.

perbatasan PNG
pintu perbatasan dari sisi RI
perbatasan PNG
di monumen perbatasan bersama briptu Kasmirin, anggota Yon Raider Kostrad

Dari sini, kami meminta ijin untuk melintas perbatasan, yang dibatasi oleh pagar besi. Dari sisi Indonesia, pagar besi ini dibiarkan terbuka. Kata seorang anggota TNI, memang dibiarkan terbuka karena akan direnovasi. Sedangkan pagar perbatasan milik PNG terlihat terkunci. Untuk melintas perbatasan dan masuk ke wilayah PNG, kami harus melewati pos imigrasi. Untunglah, disini kami tidak ditanya macam-macam ataupun dimintai paspor dan visa segala. Oleh petugas imigrasi (baik dari Indonesia maupun PNG), kami pun diijinkan masuk ke wilayah PNG. Petugas itu hanya berpesan, agar kami tidak terlalu jauh, karena selain tidak diijinkan (kami bisa ditangkap), juga masih rawan oleh pergerakan OPM.

Kami pun akhirnya masuk ke wilayah PNG, tapi masih disekitar lingkungan perbatasan. Disini, terdapat beberapa kios yang menjual souvenir-souvenir PNG. Seperti topi, kaos, dan makanan serta minuman dari PNG. Harganya? Mahal juga untuk kantong backpacker seperti saya. Minuman Fanta ala PNG misalnya, dipatok seharga 25 ribu. Sementara Topi berharga 50 ribu, serta kaos olahraga timnas rugby PNG dimintai harga 150 ribu. Meski yang menjual orang PNG, tapi mereka ternyata menerima pembayaran dalam mata uang rupiah! Selain souvenir, ada satu kios yang menjual makanan. Sepotong sosis sapi bakar (ukurannya lumayan besar) dihargai 25 ribu, sedangkan iga domba bakar dihargai 50 ribu.

perbatasan PNG
kios souvenir di wilayah PNG
perbatasan PNG
kios souvenir di wilayah PNG

Dari seberang kios ini, dari kejauhan nampak pemandangan indah, berupa hamparan pantai dengan ombak dan air yang begitu jernih. Kaki ini serasa ingin melangkah menuju pantai tersebut. Apa daya, ini di negeri orang, dan saya masuk tanpa dokumen resmi!

perbatasan PNG
pemandangan pantai di wilayah PNG

Setelah puas berfoto-foto, kami pun balik lagi ke pos penjagaan RI. Di depan para anggota TNI, saya pun bercerita perihal pantai indah di PNG tersebut. Tak dinyana, para anggota TNI tersebut menimpali, bahwa saya pun bisa melihatnya dari sisi wilayah RI. Letaknya tak begitu jauh, cuma 100 meter dari pos penjagaan, menelusuri hutan. Masalahnya, jalan menuju spot pemandangan tersebut adalah jalur yang rawan. Jalur tikus yang sering digunakan para anggota OPM untuk melintas masuk dan membuat kerusuhan di wilayah RI. Bahkan, pos penjagaan disana pernah diserang dan dibakar oleh para OPM yang masuk melalui jalur tikus tersebut.

Saya sebenarnya ingin sekali melihat spot pemandangan tersebut, tapi setelah mendengar penuturan cerita diatas, niat saya pun mulai pudar. Tapi, tekad saya sudah bulat, dan setelah pendekatan persuasif pada komandan pos, saya pun diijinkan untuk menengok spot perbatasan PNG melalui jalur tikus para anggota OPM tersebut. Tentu saja dengan pengawalan resmi, karena para anggota TNI tersebut tidak ingin terjadi apa-apa pada saya (serasa ge er). Akhirnya, ada dua anggota TNI yang bersedia menemani saya. Berhubung ini adalah jalur rawan, tentu saja mereka membawa senjata lengkap. Bahkan, satu anggota TNI langsung mengganti senapannya dan membawa senapan mesin, lengkap dengan pelurunya satu tas!

Jalur tikus menuju spot tersebut persis terletak dibelakang sebuah rumah yang difungsikan sebagai mess sementara pos perbatasan. Berupa jalan setapak, melintas pepohonan hutan yang lebat. Setelah berjalan kaki selama lima menit, sampailah saya pada sebuah tepi tebing yang curam, dimana dibawahnya adalah pantai yang membujur panjang sampai pada pantai yang saya lihat dari sisi wilayah PNG tadi. Benar-benar indah! Bahkan, disini pun sudah ada sebuah tempat duduk dari kayu yang dibangun seadanya, yang dibangun oleh anggota TNI. Sayangnya, saya tak bisa berlama-lama menikmati pemandangan indah tersebut. Karena salah satu anggota TNI yang ikut mengawal saya mengatakan, bahwa komandannya menyuruh untuk lekas kembali. Akhirnya, kami pun kembali ke pos perbatasan.

perbatasan PNG
Briptu Ario, anggota Yon Raider yang mengawal saya di jalur tikus OPM
perbatasan PNG
pemandangan wilayah pantai PNG dari sisi Indonesia, wajah tampak kusam karena sinar matahari yang menyengat

Sampai disinilah petualangan saya melintasi perbatasan PNG, yang berujung pada petualangan mendebarkan menelusuri jalur tikus para anggota OPM, meski hanya sebentar……

Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: