Jumat, Mei 24admin@warungwisata.com

Malioboro Dan Yogyakarta Yang Tak Lagi Istimewa

Malioboro dan Yogyakarta adalah dua sisi mata uang, tak dapat dipisahkan. Jika berbicara Yogyakarta, pasti semua orang juga akan berbicara tentang Malioboro. Jika Yogyakarta adalah ikon wisata budaya Indonesia, maka Malioboro adalah ikon dan pusat wisata dari Yogyakarta itu sendiri.

Keberadaan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa memang sangat mendukung potensi wisata budaya maupun wisata alam di daerah tersebut. Hingga kemudian terciptalah tagline Yogya Istimewa, atau Yogya Never Ending Asia. Namun harus diakui, Yogyakarta dan Malioboro memang istimewa. Bagi setiap wisatawan yang pernah menginjakkan kaki di Malioboro dan Yogyakarta, ada kesan tersendiri yang tak pernah dilupakan. Never Ending stories….

Kini, kesan istimewa itu perlahan mulai memudar seiring berbagai pembangunan fasilitas pendukung pariwisata di kota Yogyakarta, atau di kawasan Malioboro itu sendiri. Yogyakarta, yang kental dengan nuansa keaslian budaya jawa perlahan mulai tergeser dan berubah seperti kota metropolitan. Gedung-gedung hotel yang menjulang tinggi, pusat-pusat perbelanjaan yang menjamur dan berdiri megah seakan menghilangkan aura budaya asli jawa dari Yogyakarta.

Begitu pula dengan Malioboro. Kawasan yang dulu terkenal nyaman dan ramah bagi setiap pelancong dan pejalan kaki itu mendadak berubah seiring penambahan dan perbaikan fasilitas yang dilakukan pemerintah.

malioboro
malioboro, dulu dan sekarang

Malioboro sebelumnya indah dengan tata kota dan taman yang menyejukkan mata. Seiring perubahan zaman dan pergantian pemimpin kota Yogyakarta, semua infrastruktur maupun desain kota tersebut dirubah sedemikian rupa.

Kini pemerintah Kota Yogyakarta membuat pagar pembatas yang dicat warna orange di sepanjang jalan Malioboro. Tidak hanya itu, wadah tanaman juga dirombak. Bukannya membuat warga Yogya menyambut riak, bangunan pagar berwarna orange tersebut malah menuai olokan.

Melalui media sosial, warga Yogya menyatakan keberadaan pagar memberikan kesan yang mirip kandang binatang serta menghilangkan suasana khas Malioboro dan Yogyakarta. Tidak hanya itu, penggunaan pagar bongkar pasang itu membikin sulit kaum difabel buat beraktivitas di Malioboro. Perbandingan gambar Jalan Malioboro sebelum dan sesudah dipasang pagar diunggah oleh akun Facebook Aan Zaenu, dan mendapat banyak tanggapan, seperti dikutip dari situs Merdeka.com, Senin (17/1).

“Malah koyo kandang munyuk (malah seperti kandang monyet),” komentar akun Don Agus Condro.

“Malioboro nuansa bonbin,” tulis akun Raharja.

Tak hanya fasilitas penunjang baru yang dikeluhkan masyarakat dan pelancong, juga perlakuan para pengamen jalanan yang dinilai bisa merusak imej Malioboro dan Yogyakarta sebagai daerah yang nyaman. Para pengamen jalanan itu tak segan meminta dengan sedikit paksaan kepada para pelancong di beberapa kawasan wisata Yogyakarta.

Semestinya ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah dan pemangku kebijakan setempat. Agar bisa mengembalikan Malioboro dan Yogyakarta istimewa kembali seperti dulu.

Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: