Kamis, Juni 27admin@warungwisata.com

Enam Manfaat Menulis Ilmiah Untuk Blogger

Momen apa yang paling diingat saat kita masih duduk di bangku kuliah dulu? Mungkin banyak, yang pasti salah satunya adalah proses menulis ilmiah.

Entah itu karena sulitnya mencari judul, metode menulis ilmiah yang rumit, membuat penelitian, dosen pembimbing yang sulit ditemui hingga sidang skripsi yang menegangkan. Saya cukup yakin, 9 dari 10 orang yang pernah kuliah akan mengakui hal ini.

Saat masih kuliah, kita memang harus membiasakan diri untuk bisa berpikir ilmiah dan menulis ilmiah. Hanya saja, ketika kita sudah masuk ke dunia yang penuh dengan realita seperti sekarang, proses berpikir ilmiah tersebut kadang menjadi semakin berkurang.

Kemampuan untuk menulis ilmiah pun menurun drastis. Padahal, menulis ilmiah memiliki lebih banyak manfaat di luar dunia universitas atau lingkaran akademis. Bahkan, ini bisa menjadi salah satu keterampilan paling efektif yang dapat kita gunakan untuk menulis, terutama jika kita menekuni profesi blogger.

Apa saja manfaat menulis ilmiah tersebut? Berikut 6 diantaranya:

1. Kita belajar pentingnya menghargai kutipan

Masalah plagiarisme seolah menempel ketat dalam industri penulisan. Seperti bekas permen karet yang menempel di sepatu, selalu ikut kemanapun kita melangkahkan kaki.

Tak hanya dalam industri penulisan komersial, masalah plagiarisme kini juga sudah menjalar di dunia akademis. Banyak mahasiswa hingga dosen yang menulis skripsi atau tesis dan jurnal mereka bahkan dalam bentuk plagiat murni.

Padahal saat kita masih kuliah dulu, kita diajari pentingnya kutipan dan referensi dalam metode penulisan ilmiah. Ketika sudah lepas dari lingkaran akademis, secara perlahan kita seolah melupakan hal yang penting ini. Kita menganggap remeh kutipan yang kita ambil dari tulisan orang lain, dan mengira hal ini hanya ada dalam dunia akademis yang serba ilmiah saja.

Faktanya tidak seperti itu. Dalam dunia penulisan, mengambil kutipan milik orang lain tetaplah perlu dicantumkan sumbernya dari mana. Begitu pula dengan referensi, terutama jika tulisan itu memuat hal-hal yang bersifat ilmiah. Kita harus bisa menunjukkan sumber data atau sumber penelitian yang kita muat dalam tulisan kita tersebut.

Sayangnya, dalam industri penulisan digital seperti sekarang, banyak yang sudah melupakan hal yang penting ini. Banyak situs-situs yang memuat artikel, baik itu ilmiah ataupun tidak, dan didalamnya mengandung unsur kutipan tidak menyebutkan darimana sumbernya. Seolah si penulis hendak menunjukkan pada pembaca bahwa artikel itu murni dari pemikirannya sendiri.

2. Kita akan terbiasa menggali sumber informasi lebih dalam

Ketika masih kuliah dulu, kita dituntut untuk bisa menggali informasi yang lebih dalam. Tulisan ilmiah yang kita buat setidaknya harus memiliki data yang komprehensif sampai hasil penelitian yang jelas untuk mendukung hipotesis yang kita buat.

Begitu pula dalam industri penulisan. Artikel yang bermutu dapat dinilai dari seberapa dalam informasi yang disajikan. Bahkan sebuah artikel opini pun harus memiliki data-data dan informasi yang pasti untuk mendukung opini yang hendak dibentuk.

Penulis yang baik adalah penulis yang meragukan semua informasi yang disajikan di depan hidungnya sampai ia mendapatkan kejelasan sumber darimana informasi tersebut. Inilah yang dinamakan proses investigasi atau riset informasi.

3. Kita belajar untuk menyajikan informasi dengan lebih mudah

Masih ingatkah dulu, sebelum menulis skripsi, kita harus bolak-balik mengunjungi perpustakaan? Tujuannya untuk mendapatkan referensi.

Bagi yang kuliah di jurusan ilmu pasti, kita diwajibkan melakukan penelitian terlebih dahulu. Saya masih ingat ketika dulu harus membagikan sample produk dan lembaran kuisioner pada para pengunjung minimarket untuk memperoleh data yang hendak saya jadikan bahan tulisan skripsi.

Nah, setelah data kita peroleh, tentu saja kita tidak bisa secara langsung menuangkan data mentah begitu saja. Harus diolah, ditambahi dengan beberapa referensi pendukung.

Biasanya, metode penulisan yang digunakan adalah dengan piramida terbalik. Satu konsep besar kemudian mengerucut menjadi kesimpulan.

Begitu pula saat kita blogging. Setelah melakukan riset dan menemukan banyak fakta menarik, kita tidak bisa menuliskannya secara langsung begitu saja.

Tahap selanjutnya adalah bagaimana cara menuangkan data hasil riset dan fakta yang ditemukan tersebut dalam sebuah tulisan yang informatif. Ada tahapan seperti saat kita menulis ilmiah.

Data dan hasil riset mana yang harus disajikan terlebih dahulu dengan cara yang paling efisien. Ini berarti tidak harus menggunakan metode piramida terbalik karena blogging bukan hanya tentang berita saja. Jangan ragu untuk memodifikasi metode penulisan yang hendak kita gunakan sehingga kita nanti bisa menyajikan sebuah hidangan tulisan yang menarik.

4. Membantu kita untuk terbiasa dengan rutinitas

Sudah satu tahun lebih sejak kita mengajukan skripsi, dan itu masih berupa judul saja. Sementara orang tua di kampung halaman sudah sering bertanya kapan kita wisuda. Ada yang pernah mengalami hal ini?

Satu diantara penyebabnya adalah kita mengalami paceklik ide. Ketika itu mungkin kita sering meremehkan tenggat waktu, dipikir santai dulu sambil nongkrong di warung kopi dengan teman kuliah atau karena terhalang dengan kesibukan aktivitas lain (pacaran, sibuk di organisasi, dan lainnya).

Padahal, semakin ditunda, ide itu akan semakin memudar. Makanya, jika ada pembaca yang saat ini masih kuliah atau sedang mengerjakan skripsi, nasehat saya adalah jangan terlalu sering menunda dan jangan meremehkan omelan dosen pembimbing yang sering menuntut kita untuk selekasnya mengerjakan skripsi.

Berbeda halnya jika kita sadar akan tenggat waktu. Secara tidak langsung kita akan membangun sebuah rutinitas tersendiri. Bangun pagi, pergi ke kampus langsung ke perpustakaan untuk mencari referensi, kemudian pergi ke rental komputer (jaman saya dulu laptop dan komputer adalah barang mahal dan langka bagi mahasiswa) untuk mengetik.

Kesadaran akan tenggat waktu dan rutinitas semacam ini sangat berguna ketika kita menekuni dunia blogging. Terutama jika blog kita sudah mulai punya nama dan pasar audiens tersendiri karena tentunya para pembaca tersebut mengharapkan kita untuk menulis lebih sering.

metode menulis ilmiah,menulis ilmiah,tips menulis,tips menulis ilmiah,cara menulis ilmiah,cara membuat tulisan ilmiah,menulis karya ilmiah,metode penulisan karya ilmiah
sumber ilustrasi: unsplash.com

5. Membuat kita akrab dengan logika

Apa yang kita rasakan jika kita mendapati sebuah artikel yang tidak logis? Dalam arti tidak ada dasar dan pondasi dari argumen yang dikemukakan si penulis?

Pastinya, kita tidak akan percaya dengan tulisan tersebut, dan yang terburuk adalah kita tidak akan percaya pada sang penulis. Kita bisa melihatnya akhir-akhir ini, terutama di blog-blog politik atau agama di mana pendapat dan argumen sering disajikan tanpa alasan dan perspektif yang jelas.

Saat kita menulis skripsi dulu (atau tulisan ilmiah lainnya), kita dituntut untuk sering berpikir kritis terhadap informasi yang kita dapatkan. Benarkah informasi tersebut? Darimana sumber informasinya? Dan pertanyaan lain yang ditanyakan dosen penguji saat ujian skripsi yang tujuannya adalah untuk menguji sejauh mana validitas tulisan kita.

Kondisi berpikir kritis dan mengakrabkan diri dengan logika sebagaimana yang dulu pernah kita biasakan saat masih kuliah ini semestinya kita pertahankan. Dengan demikian, kita akan terbiasa menilai sebuah tulisan itu logis atau tidak. Dalam dunia penulisan, mempraktekkan analisis obyektif dan kritik konstruktif terhadap sesuatu atau seseorang sangat penting untuk menjaga integritas (dan martabat) tulisan kita.

6. Membuat kita menjadi lebih teliti dan terhindar dari hoaks

Mengamati perhatian terhadap detail adalah salah satu aturan dasar dan paling penting yang pernah ada dalam penulisan akademik. Itu berarti kita harus sering mengoreksi, memeriksa fakta, dan bahkan memeriksa gaya penulisan khusus serta pesan yang hendak kita sampaikan. Dan ujungnya adalah, kita lebih mudah terhindar dari berita-berita atau informasi hoaks yang menyesatkan.

 

Nah, itulah beberapa manfaat dari metode menulis ilmiah yang berguna bagi para blogger. Jika kita mempraktekkan hal ini saat menulis di blog atau media apapun, percayalah bahwa tulisan kita nantinya akan menjadi sebuah tulisan yang bermutu dan bermanfaat bagi pembaca.

 

Artikel ini sudah ditayangkan di Kompasiana

Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: