Menjadi Guru TK itu Menyenangkan

menjadi guru tk,guru taman kanak-kanak,guru tk adalah,pengalaman menjadi guru tk

Tanpa gelar akademik Sarjana Pendidikan, sejak awal Agustus lalu saya pun resmi menjadi guru TK.

Awal tahun ajaran baru saya lalui dengan mengajar secara online. Pengalaman mengajar mengaji secara daring pun cukup berguna sebagai bekal saya mengajar anak-anak TK. Meski begitu, mengajar mengaji anak-anak yang sudah mengerti dan bisa membaca huruf-huruf hijaiyah berbeda dengan mengajar anak-anak yang belum mengerti satu huruf pun.

Dalam model pembelajaran seperti ini, saya mengirim video contoh membaca. Setelah itu baru anak-anak melalui orangtua mereka mengirim video cara membaca buku mengajinya. Begitu terus, halaman per halaman.


Tentu saja, pembelajaran jarak jauh seperti ini sangat tidak efektif. Selain harus memerlukan sumber daya lebih (terutama kuota internet bagi yang tidak berlangganan wifi), saya juga cukup kesulitan untuk menilai dan memberi pengajaran yang lebih baik. Karena mengaji atau membaca huruf hijaiyah berbeda dengan membaca abjad biasa. Belajar mengaji membutuhkan interaksi langsung dengan guru agar anak-anak tahu letak kesalahan bacaannya dan bagaimana cara membaca yang baik dan benar, sesuai tuntunan tajwid-nya.

Anak-anak TK Butuh Pembelajaran Tatap Muka

Lebih dari itu, kita juga harus menyadari dan tidak boleh menafikan fakta bahwa untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak, butuh pembelajaran tatap muka.

Pada usia 3-6 tahun, otak anak-anak masih berkembang. Tangan mereka masih tumbuh. Meminta anak-anak untuk bekerja hanya dengan pena dan kertas atau layar komputer sangat jauh dari apa yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembang.

menjadi guru tk,guru taman kanak-kanak,guru tk adalah,pengalaman menjadi guru tk,kompetensi guru taman kanak-kanan
Anak-anak TK membutuhkan pembelajaran tatap muka untuk tumbuh kembang mereka (dok.pri)

Anak-anak perlu bergerak. Setiap anak-anak perlu terlibat. Mereka perlu menjadi bagian dari pembelajaran mereka. Anak-anak harus dapat menguasai keterampilan fungsi eksekutif mereka sebelum masuk ke jenjang pendidikan resmi yang lebih tinggi.


Mengajari anak-anak TK berbagai macam ilmu pengetahuan bisa kita lakukan melalui pembelajaran jarak jauh. Tapi membentuk karakter dan menanamkan etika serta budi pekerti sejak dini harus dilakukan secara langsung.

Syukurlah, pandemi di Indonesia mulai menunjukkan penurunan. Pemerintah akhirnya mengijinkan satuan pendidikan di beberapa daerah yang sudah berada di Level 3 untuk mengadakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas untuk Taman Kanak-kanak

Di Kota Malang, PTMT mulai diselenggarakan hampir serentak mulai tanggal 6 September 2021 kemarin. Kebijakan ini tentu disambut dengan suka cita oleh para orangtua dan anak-anak. Beberapa orangtua bahkan mengatakan anak-anak mereka sudah tidak sabar untuk mengenakan seragam sekolah yang sudah mulai mengecil karena lama tidak terpakai.

Setelah mendapat kepastian ijin menyelenggarakan PTMT, saya pun berbagi tugas dengan guru kelas. Karena masih dalam kondisi pandemi, anak-anak yang masuk sekolah pun harus dibatasi. Untuk tingkat PAUD dan Taman Kanak-kanak, setiap kelas hanya boleh terisi maksimal 30 persen jumlah murid, atau maksimal 5 anak. Sesi pembelajarannya pun tidak boleh lebih dari 2 jam.

Bagi Taman Kanak-kanak yang berbasis agama, pengaturan seperti itu sedikit menyulitkan. Satu jam pelajaran harus dibagi antara pelajaran umum dan pelajaran agama.

Agar anak-anak tetap mendapat pelajaran penuh, baik pelajaran umum maupun agama dan mengaji, saya dan para guru akhirnya membagi anak-anak menjadi 2 kelompok. Satu kelompok mengikuti pelajaran umum dengan guru kelas mereka, sementara kelompok yang lain mengikuti pelajaran agama dan mengaji dengan saya. Ruangannya pun terpisah. Untuk pelajaran umum di gedung TK, sedangkan pelajaran agama dan mengaji di gedung TPQ yang masih jadi satu bagian.


Tantangan Menjadi Guru Taman Kanak-kanak

Dunia anak-anak adalah dunia permainan. Maka, mengajari anak-anak TK sebisa mungkin juga harus dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan mereka. Di sinilah letak tantangannya. Menjadi guru TK harus kreatif menciptakan alat peraga.

Setiap hari saya harus memutar otak mencari bentuk-bentuk permainan yang bisa dipadukan dengan materi pelajaran agama. Saya jadi rajin mencari referensi ide aktivitas pembelajaran dan contoh alat peraga serta lembar aktivitas di internet yang bisa saya gunakan untuk mengajar. Ide-ide kreativitas tersebut kemudian saya olah kembali agar sesuai dengan materi pelajaran yang saya ajarkan.

Misalnya untuk mengajarkan angka hijaiyah, saya membuat kartu angka berisi angka hijaiyah dan angka Latin. Kartu yang bisa dilipat ini menjadi alat tambahan belajar untuk anak-anak di rumah.

Begitu pula ketika mengajarkan jumlah rakaat salat, saya membuat sendiri alat peraga yang saya sebut Salat Spin Wheel. Lewat alat peraga ini anak-anak bisa mengerti berapa jumlah rakaat masing-masing waktu salat.

menjadi guru tk,guru taman kanak-kanak,guru tk adalah,pengalaman menjadi guru tk,kompetensi guru taman kanak-kanan
Menjadi guru TK harus kreatif menciptakan alat peraga (dok.pri)

Namun, tantangan sesungguhnya ketika menjadi guru TK adalah bagaimana menghadapi berbagai macam tipe dan karakter anak dalam satu sesi pembelajaran. Ada anak yang ceriwis dan suka mengganggu temannya. Begitu pula ada anak yang pendiam dan malu-malu.

Ada anak yang cerdas dan bisa langsung menangkap perintah gurunya. Ada anak yang harus dibimbing dengan pelan-pelan sebelum akhirnya bisa memahami. Semua karakter kepribadian ini harus dibimbing secara adil. Semua anak harus mendapat porsi pelajaran yang sesuai dengan kemampuan pemahaman mereka.

Menjadi Guru TK itu Menyenangkan

Menjadi guru TK itu menyenangkan sekaligus menantang. Menghadapi wajah-wajah polos nan lucu, dunia saya menjadi segar. Ada saja tingkah laku lucu dan menggemaskan yang dilakukan anak-anak selama minggu pertama PTMT.

Ketika anak-anak saya bawa ke ruangan TPQ, mereka sangat senang karena tidak perlu duduk di kursi. Di ruangan itu mereka bisa duduk santai berselonjor. Bahkan seorang anak tanpa malu-malu langsung merebahkan tubuhnya.

“Enak Pak Himam. Di sini bisa tidur,” kata murid saya.

Terkadang, justru dari anak-anak itulah saya mendapat pelajaran tambahan. Suatu ketika, seorang anak mengadukan temannya karena mengucapkan kata kotor. Setelah saya menasihati bahwa perkataan yang diucapkannya itu tidak baik, seorang teman perempuannya tiba-tiba berkata,

“Setiap perkataan itu doa lho.”

Nah, nasihat saya malah kalah tajam dibandingkan perkataan murid saya sendiri.

Menjadi guru TK benar-benar pilihan karir atau profesi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tapi, mungkin memilihkan profesi ini sebagai jalan takdir terbaik. Jalan takdir yang membuat dunia saya terasa begitu indah.


Kamu mungkin juga suka...

Tinggalkan Komentar Ya

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: