Minggu, Februari 17admin@warungwisata.com

Pasar Majelangu Denpasar, Satu-satunya Pasar Yang Buka Di Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi, adalah salah satu hari raya umat hindu di Bali. Di Hari Raya ini, semua aktifitas keseharian penduduk Bali otomatis berhenti sehari semalam. Mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 06.00 keesokan harinya. Semua kegiatan bisnis, perniagaan maupun aktifitas sehari-hari di luar rumah juga berhenti karena di hari raya Nyepi, penduduk Bali tidak diperbolehkan keluar rumah dan membuat keramaian. Anehnya, di Bali, tepatnya Denpasar, ada sebuah pasar yang diijinkan atau boleh dikata mempunyai tradisi unik buka hanya di hari raya Nyepi saja. Pasar itu adalah pasar Majelangu, yang terletak di Jl. Dr. Soetomo, Banjar Gerenceng. Pasar yang terletak di dalam Pura Majelangu Banjar Gerenceng ini merupakan satu-satunya pasar yang bisa buka saat penduduk lainnya berhari Raya Nyepi.

Bukan tanpa sebab jika pasar ini buka khusus di hari raya Nyepi saja. Menurut penuturan teman penulis, sudah sejak dari jaman dahulu pasar Majelangu buka di hari raya Nyepi. Suatu saat, oleh pemangku adat setempat, warga sekitar dilarang beraktifitas di pasar saat Nyepi. Keesokan harinya, penduduk sekitar pasar tiba-tiba diserang wabah penyakit (grubug). Tidak diketahui tepatnya kapan pasar ini mulai ada, wabah penyakit apa yang menyerang warga serta wilayah mana yang menjadi korban wabah penyakit tersebut. Apa yang tersaji di dalam cerita tersebut merupakan sebuah nilai budaya pemanis kehadiran Pasar  Majelangu.

pasar majelangu
suasana pasar majelangu, banjar gerenceng Denpasar (foto by Elsa:kabarkomik.wordpress.com)

Dan akhirnya, hingga saat ini pasar Majelangu pun diperkenankan buka khusus di hari raya Nyepi. Pasar Majelangu mulai buka pukul 9 pagi hingga pukul 12 malam. Uniknya, hanya ada satu keluarga saja yang diperbolehkan berjualan di Pasar Majalangu. Berbagai makanan dan minuman diperdagangkan di Pasar Majalangu, seperti tipat cantok, nasi bungkus, rujak, es campur, dan lain-lain. Harga yang ditawarkan pun tidak terpaut jauh dengan harga-harga makanan dan minuman tersebut pada umumnya.

Penduduk sekitar Pasar Majalangu mengaku tidak terganggu dengan adanya Pasar Majalangu. “Namanya juga sudah tradisi, jadi masyarakat sekitar sini sudah terbiasa dengan adanya Pasar Majalangu, yang penting bisa saling menghargai saja,” ujar Nyoman Tri Darmayanti (20), penduduk asli banjar Grenceng.

 

Tinggalkan Komentar Ya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: